Selasa, 28 Januari 2014

Mengenang Soedirman, Mengemas Pelajaran

Sembilan puluh delapan tahun yang lalu, 24 Januari 1916, Soedirman lahir di Purbalingga. Kita patut berbangga karena Purbalingga menumbuhkan seorang pejuang tangguh yang tak kenal lelah menegakkan kemerdekaan Indonesia. Satu Soedirman untuk seluruh Indonesia. Kontribusi besar yang dilandasi oleh pengorbanan yang besar pula. 

Kita sudah biasa mendengar penuturan sejarah perang gerilya yang melibatkan Soedirman. Sekalipun sedang sakit parah, ia tidak menyerah kalah. Soedirman masuk-keluar hutan, menyusun strategi perang dari tempat persembunyian di pedalaman. Soedirman bersahabat dengan alam, menjadikan hutan sebagai tempat perlindungannya.

Mungkin tak banyak orang yang menyoroti kedekatan Soedirman dengan alam, pun perannya dalam Badan Pengurus Makanan Rakyat pada masa pendudukan Jepang. Kecemerlangan karier militer Soedirman memang menutupi sisi lain dari kemanusiaannya. Hanya sedikit yang tahu bahwa ia pernah mendirikan koperasi untuk menolong rakyat dari bahaya kelaparan.  

Kepedulian Soedirman terhadap ketersediaan pangan bagi penduduk saat itu adalah teladan untuk kita sekarang. Kehidupan dengan segala kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi dapat terhenti tiba-tiba karena ketiadaan pangan. Krisis pangan dan kelaparan hebat mengintai kita dan generasi berikutnya. 

Bagaimana lahan pertanian yang kian sempit mampu menghasilkan bahan pangan untuk penduduk yang terus bertambah banyak? Revolusi Hijau dengan intensifikasi pertanian yang didengungkannya, ternyata menimbulkan berbagai dampak negatif. Penggunaan pupuk dan pestisida sintetis secara masif telah mencemari lingkungan. Daya dukung tanah, air, dan udara bagi kehidupan kita sudah tidak semaksimal dulu, zaman leluhur kita. 

Mari kita kembali bersahabat dengan alam! Hutan-hutan kita jaga, pohon-pohon tidak kita tebang sembarangan. Tanah terbuka kita pertahankan sebagai daerah resapan air. Kita tanam pohon sebanyak-banyaknya untuk melindungi kita dari bencana longsor, banjir, ataupun kekeringan. Tak ketinggalan, sawah harus kita lestarikan. 

Purbalingga, khususnya, telah kehilangan banyak sawah produktif akibat pesatnya laju alih fungsi lahan. Kebutuhan pangan tertutup oleh gebyar bisnis perumahan. Pertanian terlindas zaman. Haruskah Soedirman hidup lagi untuk menjamin ketahanan pangan kita? Biarkanlah ia beristirahat dengan tenang! Cukuplah semangatnya melandasi perjuangan kita!

Rabu, 18 Juli 2012

18072012

Akhirnya batal juga... kecewa memang, tapi apa daya?
Kami hanyalah korban "pengandasan harapan".

Kamis, 05 April 2012

Ketindan (3)

Kamis, 5 April 2012, hari yang lucu dan konyol karena ulah Pak Made "Onar", si pembuat onar dalam kelas Angkatan I Diklat Diversifikasi Pangan dan Gizi. Sepatu-sepatu dijadikan selen (ditukar bagian kanan/kirinya). Kresek berisi sampah tangkai cabai, dimasukkan ke dalam tas milik peserta lain. Lemper senampan disembunyikan hingga membuat banyak orang kebingungan mencari kudapan sore. Tingkah laku si bapak itu membuat banyak orang tertawa terpingkal-pingkal, rasa geli dan kesal bercampur, tetapi tak kuasa meluapkan amarah dan membalas dendam kepada Pak Made. 

Untung lho, kelompok satu punya satwa langka, eh bocah tua nakal yang selalu menceriakan suasana! Asal tahu saja, senakal-nakal, seusil-usil, sejahil-jahil Pak Made, dia sangat takut melihat ulat daun kemangi ha-ha-ha... Mukanya sekejap pucat pasi ketika ulat mungil disodorkan di depannya. Ternyata jagoan gila pun memiliki kelemahan. Tak ada manusia yang luput dari kelemahan, termasuk seorang penyuluh. Maka, pentinglah menyadari bahwa kegiatan penyuluhan bukanlah ajang unjuk kekuatan, demo keahlian, atau pamer kelebihan penyuluh, melainkan sarana penjalin komunikasi, relasi, dan interaksi positif sinergis antarpelaku serta pendukung usaha pertanian.     

Selasa, 03 April 2012